Jumat, 19 Maret 2010

The Moon


Beberapa malam lalu, sejumlah tempat di kota ini menjadi gulita karena lampu yang tiba-tiba padam untuk waktu yang lumayan lama. Tidak seluruh kota memang, namun hanya sebagian. Dan yang sebagian itu termasuk pula di kediamanku. Ahhhhhhhh.....!!!!. Geram sekali... padahal saat itu saya tengah terlibat obrolan seru via chat dengan beberapa rekan lama di SMU dulu. Dan kita memang sudah janjian sedari sore-nya. Pada saat yang sama saya juga tengah mengunduh beberapa lagu lawas yang sebelumnya sulit kutemukan. Aktifitas itu saya lakukan di luar rumah, karena koneksinya Wi Fi-nya relatif lebih baik daripada di dalam

Tapi, lampu yang tiba-tiba padam membuyarkan semuanya. Cahaya tak ada, koneksipun pun putus. Hanya laptop ini yang terus bertahan dengan energi yang nyaris menyentuh titik nadir. Tak sadar, beberapa makian kecil meluncur dari mulut biadab ini. Usai kegeraman itu terlontar, pikiranku tiba-tiba kosong. Tidak tahu mau melakukan apa, dan hanya terdiam di depan laptop yang tidak sempat di-charge itu. Untuk mencegah dari kerusakan, segera loptop kumatikan. Tapi posisiku masih tetap disitu, diluar rumah. Suasana saat itu berubah senyap, karena televisi dan alat-alat listrik lain tak dapat berfungsi. Semuanya pun hening.

Untunglah cahaya bulan diatas langit cukup membantu mata ini untuk mengidentifikasi lingkungan sekitarku. Dan saya baru tersadar akan hal itu, bahwa bulan tengah bersinar dengan indahnya di atas sana. Posisi dudukku yang tepat berhadapan dengan satelit bumi itu, memudahkan untuk menikmatinya. indah... dan mendamaikan. Sensasi kebahagian tiba-tiba hadir. Menggeser kegeraman dan kemarahan karena muncul sebelumnya. Kekesalan terhadap lampu yang padam terhapus. Tanpa sadar, saya merasa senang dengan keadaan ini dan melupakan semuanya. Termasuk melupakan teman-teman SMU-ku yang mungkin kebingungan karena saya tiba-tiba lenyap dari dunia maya. Ini sebuah ketenangan yang lain.....sungguh !!!!!

Berselang beberapa saat, satu persatu pintu rumah tetanggaku terbuka. Penghuninya pun keluar. Teras rumah-rumah kami yang berhimpitan menjadi riuh karenanya. Nampaknya mereka juga baru tersadar bahwa cahaya rembulan di luar hadir dengan indahnya. Membuat malam menjadi sedikit jelas. Berbagai komentar kekaguman akan sang pemberi cahaya malam pun beruntaian keluar dari mulut mereka. Selanjutnya, obrolan ringan pun mengalir. Ini sebuah situasi yang jarang hadir, saat kami semua bisa keluar, berkumpul semua di malam hari yang melelahkan. Biasanya, di waktu seperti ini semuanya diam di rumahnya masing-masing. Bersitirahat atau men-tongkrongi kotak hitam untuk sesuatu yang mereka sebut sumber hiburan dan informasi. Dan hari ini, saat lampu padam dan rumah menjadi gelap gulita, semuanya pun keluar untuk mencari cahaya.

Saya teringat sebuah ucapan bahwa selama ini teknologi dan perkembangannya membuat manusia-manusia menjadi semakin individualis bahkan cenderung egois. Saya ingat bagaimana mesin-mesin produksi diciptakan bagi sang pemiliki modal agar supaya dia tak lagi terlalu banyak menggunakan tenaga manusia yang harus dibayar setiap bulannya dan diasuransikan ini itu. Dan dalam konteks yang jauh lebih kecil, kehadiran lampu, televiisi dan berbagai tetek bengek teknologi terbaru lainnya telah memenjarakan manusia di rumahnya masing-masing. Mereka lebih betah melihat perkembangan orang-orang nun jauh disana ketimbang bersosialisasi dengan orang-orang di sebelah rumahnya.

Hingga kemudian pasokan energi menjadi padam pada malam itu............

Inilah saat dimana manusia kehilangan pegangan dari teknologi yang mereka bangga-banggakan. Sebuah kebanggaan yang terbatas, karena toh lampu bisa juga padam dan sumber energi bisa punah. Pada saat seperti itu, manusia-manusia pun kembali ke naluri asalnya. Bergerak ke arah cahaya dan berkumpul dalam jumlah banyak. Dalam kehidupan purba, hal seperti ini kerap dilakukan untuk menghindari serangan predator malam yang tak jelas terlihat. Juga dengan berkumpul bersama, mereka jadi lebih mudah melawan jika serangan itu benar-benar terjadi. itu naluria yang masih terjaga hingga saat ini. Sebuah naluri yang mengatakan bahwa malam menyimpan ancaman dan kesendirian adalah sumber kelemahan. Tapi, tentu saja konteks hari ini sudah berbeda. Naluri itu datang dalam bentuknya yang lain. Bukan dalam bentuk ancaman. Toh selama ini kita sudah punya polisi yang sigap membantu melawan predator jahanam. Naluri bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, yang selama ini tergerus karena teknologi menggeser tempatnya. Mungkin inilah waktu dimana manusia kembali ke dirinya yang sebenarnya, sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk mengatasi keterbatasannya.

Sekilas, saya kemudian berpikir seandainya saya kelak menjadi pemimpin di suatu wilayah. Saya akan mengeluarkan sebuah keputusan bahwa setiap bulan bersinar, lampu kota harus dipadamkan selama beberapa jam. Dan tidak ada seorangpun boleh menggunakan energi alternatif. Cukup dengan menikmati cahaya bulan di luar rumah. Semua orang harus berkumpul di lingkungan sekitarnya, di tempat yang lapang agar bisa menikmati temaram sinar bulan.

Dengan cara seperti itu, harapannya tentu saja kita bisa kembali menghadirkan naluri kemanusiaan kita yang nyaris punah yaitu, berkumpul bersama dan bergerak menuju cahaya.

0 komentar:

Poskan Komentar